Darilaut – Ekosistem padang lamun bukan hanya penting bagi ikan dan spesies laut lainnya, peredam badai dan perubahan iklim, serta ruang alam terbuka di pantai.
Di Torosiaje, lamun sebagai penanda atau isyarat awal bulan kamariah. Mekarnya bunga padang lamun sebagai isyarat awal Ramadan maupun Syawal di Torosiaje yang lahir karena kondisi alam, dan hingga kini masih terus dipertahankan.
Kesadaran pentingnya lamun atau sammo sudah lama dijalankan di Torosiaje. ”Kalau sudah mekar bunga sammo, itu malam pertama,” kata Umar Pasandre, tokoh masyarakat Torosiaje dan Ketua Kelompok Studi Lingkungan (KSL) Paddakauang.
”Mekarnya buah lamun di malam pertama tidak banyak.”
Apalagi kondisi orang Torosiaje yang sebagian hidup melaut, mencari ikan, yang seringkali lokasinya jauh atau tidak terjangkau sistem komunikasi seperti telepon seluler dan sarana informasi lainnya termasuk jaringan internet.
Di masa lalu, leluhur orang Torosiaje Tidak menunggu pengumuman. Praktik ini kata Umar, ”sudah turun-temurun.”
Memperingati Hari Lamun Sedunia (World Seagrass Day) yang dirayakan tanggal 1 Maret, setiap tahunnya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Darilaut.id mengangkat kearifan lokal bunga sammo di Torosiaje.
Lamun dengan sebutan sammo di Torosiaje tumbuh di dasar laut dangkal. Ini satu-satunya tumbuhan berbunga yang dapat hidup di laut.




