
Akhirnya, menurut Vindi, banyak yang keluar dari sektor pertanian karena tekanan struktural dan ketergantungan ekonomi.
Salah satu refleksi penting dari penelitian ini adalah perbandingan antara Revolusi Hijau di Asia Tenggara dan di Afrika.
Sementara di Indonesia, Thailand, dan Vietnam, Revolusi Hijau berhasil karena didukung oleh intervensi negara dalam bentuk subsidi bibit, pelatihan, penyuluhan, serta pengendalian distribusi pertanian. Negara bertindak sebagai aktor utama yang memastikan teknologi dapat diakses petani kecil.
Di negara-negara seperti Malawi, Uganda, dan Afrika Selatan, proyek pertanian skala besar diserahkan sepenuhnya ke mekanisme pasar dan korporasi multinasional.
Bibit dan input pertanian dijual melalui jaringan distributor tanpa pendampingan teknis yang memadai. Model ini membebani petani kecil dan menghasilkan ketimpangan struktural.




