Menteri Susi mengingatkan agar semua pihak bekerja sama untuk memajukan perekonomian perikanan, utamanya budidaya.
Susi mengatakan, Indonesia dapat membidik pasar non-tradisional, seperti di Timur Tengah dan Afrika untuk memasarkan produk udang Indonesia dan juga mengoptimalkan pasar domestik.
“Mungkin kita kembali ke monodon (udang windu), itu udang asli negeri kita. Nah, saat sekarang ini (ketersediannya) agak kurang di dunia, (karena) kebanyakan udangnya sekarang semua vaname,” ujar Susi.

Namun, udang vaname sangat rentan terkena outbreak (wabah). Beruntung, sebagai archipelagic state, Indonesia mungkin tidak akan mengalami outbreak yang parah seperti yang mungkin terjadi di Ekuador atau Thailand. Meski demikian, para pelaku usaha budidaya untuk tetap waspada.
Menteri Susi meminta para pengusaha untuk mengikuti prosedur-prosedur karantina yang telah ditetapkan. Hal ini untuk mewujudkan sustainable aquaculture yang sangat penting baik secara finansial maupun kelestarian lingkungan.
Susi mengatakan, budidaya sejak 30 tahun terakhir digiatkan di seluruh dunia. Ini karena kebutuhan pangan manusia yang makin hari kian banyak dan tidak akan pernah berkurang karena pertumbuhan penduduk dunia masih terus berlanjut. Indonesia hampir konsisten masih menambah penduduknya di atas 2 juta orang tiap tahun.





Komentar tentang post