Darilaut – Provinsi Gorontalo memiliki keanekaragaman budaya dan bahasa daerah yang yang hingga kini tetap hidup dan digunakan oleh masyarakat dalam interaksi sehari- hari.
Rumpun bahasa daerah Gorontalo, Suwawa, Atinggola, Bulango, dan ragam kebahasaan lain yang hidup di wilayah ini tidak hanya merepresentasikan variasi linguistik.
Tetapi juga “menyimpan jejak relasi sosial, migrasi, serta pertukaran budaya yang berlangsung lintas generasi,” kata Prof. Dr. Asna Ntelu, dalam orasi ilmiah pengukuhan guru besar di auditorium Universitas Negeri Gorontalo (UNG), pada Selasa (3/2).
Dalam orasi dengan judul “Menelusuri Jejak Kekerabatan Bahasa Gorontalo, Suwawa, Atinggola, dan Bulango di Provinsi Gorontalo” Prof. Asna menyampaikan dalam perspektif analisis wacana budaya, hubungan kekerabatan bahasa tidak dipandang sekadar sebagai kesamaan bentuk linguistik, melainkan sebagai konstruksi makna budaya yang hidup dalam praktik berbahasa masyarakat Gorontalo.
Cara masyarakat menamai bahasa, membedakan dialek, serta mengklaim kedekatan maupun perbedaan bahasa merepresentasikan relasi sosial dan simbolik yang berkembang.
Kajian ini penting karena dapat mengungkap hubungan kekerabatan bahasa-bahasa daerah di wilayah Gorontalo, kata Guru Besar dalam Bidang Kepakaran Analisis Wacana Budaya di Fakultas sastra dan Budaya (FSB) UNG.




