“Keunggulan teknologi nuklir adalah kita bisa menganalisis biota dalam keadaan hidup. Setelah diukur, biota bisa dikembalikan lagi dan diamati terus sampai percobaan selesai,” ujar Heny, Sabtu (20/12).
Pendekatan ini memungkinkan peneliti menghitung faktor bioakumulasi serta waktu tinggal biologis mikroplastik di dalam tubuh biota, informasi yang sulit diperoleh dengan metode konvensional.
Tak hanya itu, teknologi nuklir juga memungkinkan pemetaan distribusi mikroplastik di organ tertentu, seperti insang, sehingga memberikan gambaran lebih detail tentang interaksi mikroplastik dengan sistem biologis.
Dengan data tersebut, peneliti dapat memperkirakan potensi paparan mikroplastik pada manusia berdasarkan pola konsumsi ikan.
Riset ini didukung melalui skema pendanaan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) BRIN, serta melibatkan kolaborasi dengan perguruan tinggi, di antaranya Universitas Indonesia.
Sejumlah hasil penelitian telah dipublikasikan di jurnal ilmiah bereputasi sebagai bagian dari upaya membangun basis pengetahuan berbasis bukti.
Dengan menggabungkan pemantauan lingkungan, rekonstruksi sejarah pencemaran, serta kajian bioakumulasi pada biota, BRIN membangun pendekatan komprehensif dalam memahami persoalan mikroplastik laut.




