“Hasil pemetaan menunjukkan Indonesia Timur masih tertinggal jauh dibanding Indonesia Barat, khususnya Jawa. Ini tantangan serius di tengah kerentanan masyarakat, terutama dalam konteks kebebasan pers, media, dan teknologi,” katanya.
Upi mengatakan bahwa salah satu fokus utama program adalah mendorong jurnalis, aktivis, mahasiswa, dan akademisi di Indonesia Timur agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). Namun, keterbatasan infrastruktur digital di wilayah timur masih menjadi kendala utama.
“Harapan ini bukan hanya milik KabarMakassar atau BBC Media Action, tetapi harapan masyarakat Indonesia Timur agar tidak terus tertinggal dalam arus informasi dan teknologi,” ujar Upi.
Selama pelaksanaan program, sedikitnya lima hingga enam pertemuan luring digelar di Makassar, Ternate, dan Jakarta. Pertemuan tersebut melibatkan jurnalis, penggiat media, dan aktivis dari Papua, Maluku, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, hingga Sulawesi Selatan.
Dalam berbagai diskusi, Upi mengungkapkan sejumlah persoalan krusial yang disuarakan peserta, mulai dari ketimpangan ekonomi, minimnya alokasi anggaran pembangunan ke Indonesia Timur, keterbatasan infrastruktur digital di wilayah 3T, hingga tingginya angka kekerasan terhadap jurnalis.




