“Perempuan harus berperan penting dalam menjaga alam. Meneruskan tradisi sasi merupakan salah satu upaya kami menjaga alam tetap Lestari,” kata Ketua Kelompok Zakan Day Serly Widya Dakam Day.
“Pada prosesnya Kelompok Zakan Day juga melibatkan generasi muda, sehingga harapannya tradisi sasi tidak putus.”
Serly mengatakan hasil penjualan dari buka sasi digunakan untuk mendukung kegiatan keagamaan, kemasyarakatan, serta tabungan pendidikan bagi masyarakat Kampung Salafen.
Oleh karena itu, kegiatan sasi yang dilakukan oleh Zakan Day tidak hanya berdampak pada kelestarian alam, tetapi juga membawa banyak manfaat bagi masyarakat kampung.
Proses buka sasi dimulai dengan ibadah di gereja yang dilanjutkan dengan ritual adat untuk memohon izin leluhur agar hasil panen sasi melimpah dan membawa berkah.
Setelah prosesi upacara adat selesai, masyarakat menuju wilayah sasi untuk mengambil teripang yang biasa dilakukan dengan menyelam bebas atau disebut molo dalam bahasa setempat.
Warga yang ikut panen sasi harus mematuhi aturan yang telah disepakati, di antaranya ukuran teripang yang boleh diambil minimal 15 sentimeter dan jika kurang harus dikembalikan ke laut, serta menggunakan alat tangkap ramah lingkungan.
Zakan Day mendapat pendampingan pengelolaan sasi berkelanjutan, berlandaskan sains, melalui jalinan kemitraan dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN).




