Darilaut – Sejumlah ilmuwan dari berbagai negara telah melakukan penilaian pengaruh perubahan iklim terhadap siklon tropis. Peristiwa Badai Siklon Senyar di Selat Malaka mengakibatkan kehancuran di Provinsi Aceh, Sumatra Utara (Sumut) dan Sumatra Barat (Sumbar).
Hingga Selasa (9/12) pukul 17.00 WIB, data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), total korban meninggal dunia di tiga provinsi akibat bencana hidrometeorologi ini berjumlah 964 jiwa.
Berdasarkan wilayah, korban meninggal dunia di Provinsi Aceh berjumlah 391 jiwa dan hilang 31 jiwa. Di Sumut jumlah meninggal dunia sebanyak 338 jiwa dan hilang 138 jiwa, sedangkan Sumbar total korban meninggal dunia berjumlah 235 jiwa, 95 hilang.
Selain penilaian di Selat Malaka, para ilmuwan juga menilai Badai Siklon Ditwah di Sri Lanka. Kolaborasi ahli berasal dari Sri Lanka, Filipina, Malaysia, Inggris Raya, Amerika Serikat, Swedia, Irlandia, dan Belanda.
Tim menemukan Curah hujan ekstrem yang terkait dengan Badai Siklon Senyar di Selat Malaka kira-kira setara dengan peristiwa 1 banding 70 tahun dalam iklim saat ini.
Hasil penilaian ini telah dipublikasikan di situs web Worldweatherattribution.org, 10 Desember 2025.
Pengaruh perubahan iklim terhadap siklon tropis cukup kompleks. Namun, meskipun dilanda siklon tropis, dampak utamanya berasal dari curah hujan lebat yang menyertainya, bukan dari angin kencang.




