Bahkan jika dunia berhasil mencapai tujuan paling ambisius dalam Perjanjian Paris mengenai perubahan iklim – membatasi kenaikan suhu global hingga 1,5°C – 70 persen hingga 90 persen karang pembentuk terumbu diperkirakan akan mati. Jika suhu naik 2°C, 99 persen akan binasa.
Para peneliti telah menemukan kantong air di lepas pantai Australia, Mesir, Indonesia, Kenya, Malaysia, Arab Saudi, Tanzania, dan tempat terumbu karang bertahan dari dampak buruk perubahan iklim. Di beberapa tempat berlindung yang aman, yang dikenal sebagai refugia, naiknya air dingin dari kedalaman laut menjaga karang tetap sejuk. Di negara lain, karang sendiri memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap panas.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan organisasi internasional telah meningkatkan upaya untuk melindungi karang.
Dana Global untuk Terumbu Karang (Global Funds for Coral Reefs) bertujuan untuk menyalurkan hingga US$3 miliar untuk proyek-proyek yang melindungi kota-kota bawah laut ini.
Dana tersebut merupakan kemitraan antara sektor publik dan swasta, dirancang untuk mendukung upaya global yang lebih luas untuk melindungi keanekaragaman hayati sekaligus membantu masyarakat pesisir beradaptasi terhadap perubahan iklim. Dana ini diketuai bersama oleh UNEP, pemerintah Inggris dan Irlandia Utara.




