Sementara itu, 45 negara, yang merupakan rumah bagi sebagian besar karang dunia, telah menandatangani perjanjian untuk melindungi 125.000 kilometer persegi terumbu karang, sebuah upaya yang dikenal sebagai Terobosan Terumbu Karang (Coral Reef Breakthrough).
Namun, untuk menyelamatkan terumbu karang, dunia harus melakukan peralihan drastis dari bahan bakar fosil sambil mengekang ancaman lokal terhadap terumbu karang, kata Leticia Carvalho, Kepala Cabang Kelautan dan Air Tawar dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP).
Yang tidak kalah penting, kata Carvalho, memahami betapa masih sedikitnya pengetahuan umat manusia tentang lautan. Hanya 20 persen dari kedalamannya yang telah dieksplorasi dan penemuan-penemuan baru terus dilakukan.
Contoh kasus: para ilmuwan baru-baru ini menemukan apa yang dikenal sebagai hidrokoral merah di Chili dan Antartika. Terumbu karang, yang merupakan ekosistem langka yang penuh dengan kehidupan, belum pernah didokumentasikan sejauh ini di wilayah selatan.
Dekade Ilmu Kelautan PBB, yang berlangsung dari tahun 2021 hingga 2030, dirancang untuk membantu mengisi kesenjangan pengetahuan.
Carvalho mengatakan penelitian yang dilakukan di bawah naungannya akan mendukung keputusan yang tepat mengenai cara melindungi dan memanfaatkan sumber daya laut secara berkelanjutan.




