Kepala Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan BRIN, Sastri Sunarti, menggarisbawahi peran strategis pengetahuan ekologis yang terkandung dalam tradisi lisan.
“Para pembicara hari ini membawa pengetahuan luar biasa tentang bagaimana masyarakat adat menjaga lingkungan melalui tradisi yang hidup turun-temurun,” ujarnya.
Sastri mendorong penguatan dokumentasi, kolaborasi riset, dan perlindungan terhadap tradisi yang bernilai ekologis.
Dari Maluku, tokoh adat Pulau Haruku Eliza Marten Kissya (Opa Eli) menjelaskan bagaimana sistem sasi berfungsi sebagai mekanisme sosial-ekologis yang menjaga pemanfaatan sumber daya laut, sungai, dan hutan selama berabad-abad.
Sasi menjadi kerangka etika untuk memastikan keberlanjutan generasi mendatang.
Di Maluku, langkah-langkah konservasi yang dijalankan Kewang Haruku, mulai dari penanaman bakau, penangkaran burung melew, penyelamatan penyu, hingga transplantasi terumbu karang, serta pembinaan kewang kecil bagi generasi muda penjaga lingkungan.
Dari Malaysia, Mohammad Husri Morni memaparkan tradisi Tibau masyarakat Melanau di Sarawak, sebuah permainan ritual raksasa yang diikat oleh pantang larang dan nilai-nilai lisan untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan laut.
Meskipun kini tampil sebagai atraksi budaya, nilai fundamentalnya tetap terjaga: laut dipandang sebagai entitas hidup yang harus dihormati dan dirawat.




