
Para orang tua bercerita tentang Smong sembari menunggu buah hati mereka terlelap dalam tidur. Semua orang tua melakukan hal yang sama, hingga akhirnya Smong menjadi kearifan lokal masyarakat Simeulue yang diwariskan melalui berbagai cara. Para tetua meyakini suatu saat Smong akan datang lagi, walaupun mereka sangat berharap agar kejadian itu tidak pernah terulang lagi.
Bencana tsunami dahsyat yang menimpa Aceh pada tahun 2004 lalu, boleh dikatakan sebagai challenge tersendiri bagi masyarakat Simeulue. Tantangan terhadap kearifan lokal dan adat tutur yang telah diwariskan ternyata berhasil dilalui. Gempa hebat dan luapan air laut menyapu ribuan rumah penduduk, namun masyarakat selamat.
Masyarakat dunia khususnya Indonesia mulai mempelajari Smong sebagai salah satu cara untuk mitigasi bencana tsunami.
Alfi Rahman, Peneliti di Pusat Riset Mitigasi Bencana dan Tsunami (TDMRC), Universitas Syiah Kuala dan Stephen A. Sutton, mahasiswa doktoral di Charles Darwin University menguraikan kisah tersebut di Conversation Media Group (theconversation.com).
Kearifan lokal smong, yang terus dijaga selama 97 tahun, berhasil menyelamatkan nyawa mereka.
Istilah smong menarik perhatian para peneliti internasional yang ingin mendalami fenomena tersebut. Smong merupakan pengetahuan lokal masyarakat Simeulue –sebelum tahun 2004– tidak diketahui oleh pihak luar.



