Padahal, di Jepang sendiri terdapat beragam istilah untuk menggambarkan fenomena alam yang kita kenal sebagai tsunami, seperti onami (gelombang besar), shakainamisu (gelombang yang naik hingga ke daratan), dan sebagainya.
Kata “tsunami” dalam bahasa Jepang berasal dari dua kata: “tsu” yang berarti pelabuhan, dan “nami” yang berarti gelombang; dengan kata lain, “gelombang pelabuhan”.
Jika ditinjau dari akar katanya, pemahaman mengenai bencana alam ini menjadi kurang lengkap. Apakah gelombang ini hanya berdampak pada pelabuhan? Apakah saya aman jika berada di pantai? Hal ini menjadi tidak jelas.
Meskipun demikian, istilah “tsunami” kini digunakan secara internasional—menggantikan istilah “gelombang pasang” (tidal wave) dalam berbagai bahasa sejak tahun 1980-an. Tentu saja, istilah “gelombang pasang” merupakan deskripsi yang jauh lebih keliru untuk fenomena gelombang raksasa tersebut, karena fenomena ini sama sekali tidak berkaitan dengan pasang surut air laut.
Oleh karena itu, terdapat beberapa alasan kuat untuk menjadikan “smong” sebagai bagian dari kosakata bahasa Indonesia.
“Smong” menggambarkan fenomena bencana alam yang kerap terjadi di Indonesia, seperti di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. Mengingat 46% wilayah pesisir Indonesia rentan terhadap gelombang raksasa, istilah ini sangat relevan secara geografis.




