Dulu hanya melalui nafi, sekarang Smong juga diceritakan melalui Nanga-nanga dan kesenian Nandong masyarakat Simeulue. Tidak hanya itu, Smong pun disenandungkan melalui lagu dan puisi, seperti karya Moris. Di saat penutur nafi-nafi sudah sedikit, media seni menjadi salah satu solusi agar kisah Smong tetap tersampaikan.
Alfi Rahman, Peneliti di Pusat Riset Mitigasi Bencana dan Tsunami (TDMRC), Universitas Syiah Kuala dan Stephen A. Sutton, mahasiswa doktoral di Charles Darwin University menguraikan kisah tersebut di Conversation Media Group (theconversation.com).
Pada 26 Desember 2004, hampir 100 tahun kemudian, seluruh penduduk Simeulue yang berjumlah 70.000 jiwa kembali diingatkan akan smong oleh gempa berkekuatan 9,2 magnitudo. Mereka segera berlari menuju perbukitan dan menyaksikan gelombang raksasa menghancurkan rumah-rumah mereka.
Kearifan lokal smong, yang terus dijaga selama 97 tahun, berhasil menyelamatkan nyawa mereka.
Istilah smong menarik perhatian para peneliti internasional yang ingin mendalami fenomena tersebut. Smong merupakan pengetahuan lokal masyarakat Simeulue –sebelum tahun 2004– tidak diketahui oleh pihak luar.
Smong perlu dimasukkan ke dalam kosakata bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencantumkan istilah bahasa Jepang “tsunami” untuk merujuk pada fenomena yang oleh masyarakat Simeulue disebut sebagai “smong”.




