Seperti makam Abu Ayyub Al-Ansari di Istanbul dan makam Sultan Nahmet di Bursa, Turki, yang menjadi pusat ziarah dan penguatan memori kolektif umat.
“Praktik ziarah tidak sekadar ritual keagamaan, tetapi juga menjadi media transmisi ingatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini serta memperkuat ikatan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar,” kata Hamdar.
Makam Syekh Yusuf Al-Makassari di Gowa yang hingga kini menjadi pusat spiritual sekaligus destinasi sejarah yang banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai latar belakang.
Keberadaan makam tersebut tidak hanya berfungsi sebagai situs keagamaan, tetapi juga sebagai penguat identitas budaya, sumber pengetahuan sejarah, serta potensi penggerak ekonomi lokal,” kata Hamdar.




