Nurman juga menemukan manuskrip dari Cianjur yang tersebar hingga Port Elizabeth, yang menunjukkan luasnya jaringan penyebaran budaya dan keilmuan Nusantara pada masa lalu.
Nurman mengajak masyarakat dan akademisi untuk terus menggali warisan sejarah tersebut agar jejak ulama Nusantara tetap hidup dan dikenal secara global.
Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban BRIN, Wuri Handoko, mengatakan kajian tentang Syekh Yusuf telah banyak dilakukan. Namun tantangan ke depan adalah menghadirkan perspektif dan inovasi baru yang dapat memperkaya narasi keilmuan, baik dari aspek simbolik, morfologi, maupun perspektif internasional.
Kolaborasi dan refleksi kritis seperti ini dapat membuka perspektif baru dalam studi tentang tokoh dan warisan intelektualnya, sekaligus mendorong para peneliti untuk terus menghasilkan publikasi dan menyebarluaskan pengetahuan tentang warisan budaya keislaman Nusantara.
Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra BRIN, Herry Yogaswara, berharap kajian mengenai peran ulama Nusantara yang memiliki pengaruh hingga Afrika Selatan dapat menjadi pembelajaran penting sekaligus memperkuat pemahaman tentang kontribusi Indonesia dalam sejarah global.
Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban peneliti PRKK BRIN, Hamdar Arraiyah, menjelaskan makna penting makam-makam tokoh Muslim sebagai simbol penghormatan sekaligus ruang pewarisan nilai keislaman.




