Apabila dibandingkan terhadap rerata klimatologis Akumulasi Curah Hujan Musim Kemarau (periode 1981-2010), maka secara umum kondisi Musim Kemarau 2021 diprakirakan “normal” atau “sama” dengan rerata klimatologisnya pada 182 ZOM (53,2 persen).
“Musim Kemarau pada tahun 2021 akan datang lebih lambat dengan akumulasi curah hujan yang mirip dengan kondisi Musim Kemarau biasanya. Artinya Musim Kemarau 2021 cenderung normal dan kecil peluang terjadinya kekeringan ekstrem, seperti musim kemarau tahun 2015 dan 2019,” ujar Herizal.
Sebanyak 119 ZOM (34,8 persen), akan mengalami kondisi kemarau “atas normal” atau musim kemarau lebih basah, yaitu curah hujan musim kemarau lebih tinggi dari rerata klimatologis.
Sebanyak 41 ZOM (12,0 persen) akan mengalami “bawah normal” atau musim kemarau lebih kering, yaitu curah hujan lebih rendah dari reratanya.
Menghadapi Musim Kemarau 2021, Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim Dodo Gunawan mengatakan, perlu mewaspadai wilayah-wilayah yang akan mengalami musim kemarau lebih awal dibanding wilayah lainnya seperti di sebagian wilayah Sumatera bagian utara, sebagian kecil Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan sebagian Sulawesi.
Peningkatan kewaspadaan dan antisipasi dini juga perlu ditingkatkan untuk wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami musim kemarau lebih kering dari normalnya yaitu di Aceh bagian tengah.





Komentar tentang post