Perundingan ini menghasilkan Perjanjian Paris yang bersejarah pada tahun 2015, di mana berbagai negara berkomitmen untuk menjaga pemanasan global agar tetap jauh di bawah 2°C, serta berupaya membatasinya hingga 1,5°C di atas tingkat pra-industri.
Saat ini, COP telah berkembang jauh melampaui sekadar negosiasi antar pemerintah. Kalangan dunia usaha, ilmuwan, masyarakat adat, kaum muda, dan masyarakat sipil kini semakin banyak berpartisipasi, yang mencerminkan besarnya tantangan yang dihadapi.
Meskipun bahan bakar fosil masih menjadi penyebab utama emisi yang memicu pemanasan global, teknologi yang diperlukan untuk beralih dari bahan bakar tersebut kini berkembang dengan sangat pesat.
Energi surya, kendaraan listrik, dan sistem penyimpanan baterai pun menjadi semakin mudah diakses. Namun, banyak negara masih kesulitan untuk memperoleh manfaat dari kemajuan tersebut.
“Kini terdapat kesadaran yang jelas bahwa untuk mengatasi krisis iklim, diperlukan keterlibatan semua pihak,” kata Selwin Hart, Penasihat Khusus PBB untuk Aksi Iklim dan Transisi yang Adil, seperti dikutip dari UN News.
COP sering kali dinilai berdasarkan kesepakatan yang dicapai pada akhirnya—yang terkadang lahir setelah diskusi alot selama berhari-hari dan kompromi di saat-saat terakhir. Namun, menurut Hart, hal tersebut hanya mencerminkan sebagian dari keseluruhan cerita.



