Ia menyebutkan tiga cara konferensi ini dapat membawa perubahan:
1. Kesepakatan hasil negosiasi: Berbagai negara berupaya mencapai konsensus mengenai isu-isu seperti pendanaan iklim, pengurangan emisi, dan adaptasi, meskipun perpecahan geopolitik sering kali menyulitkan tercapainya hasil yang ambisius.
2. Agenda Aksi (Action Agenda): Pemerintah, bank pembangunan, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil bekerja sama dalam solusi praktis—mulai dari perluasan energi terbarukan dan modernisasi jaringan listrik hingga pengurangan emisi metana.
3. Komitmen nasional: Negara-negara memanfaatkan COP untuk mengumumkan langkah-langkah yang akan diambil di dalam negeri, termasuk rencana iklim yang baru, komitmen untuk beralih dari bahan bakar fosil, serta kontribusi terhadap pendanaan iklim.
“Terkadang ada harapan bahwa COP akan selalu menghasilkan kesepakatan besar yang mampu menyelesaikan krisis iklim. Harapan seperti itu tidak realistis,” ujar Hart.
Terkadang ada harapan bahwa COP akan selalu menghasilkan kesepakatan besar yang mampu menyelesaikan krisis iklim. Harapan seperti itu tidak realistis.
Tahun ini, Turki akan menjadi tuan rumah sekaligus memimpin penyelenggaraan, sementara Australia memimpin jalannya negosiasi dengan bekerja sama erat bersama negara-negara kepulauan Pasifik.



