Dalam siaran pers WHO, lebih dari sepuluh hari setelah eskalasi konflik terbaru di Timur Tengah, sistem kesehatan di seluruh wilayah tersebut mengalami tekanan karena cedera dan pengungsian yang meningkat, serangan terhadap fasilitas kesehatan terus berlanjut, dan risiko kesehatan masyarakat meningkat.
Konflik tersebut memengaruhi layanan yang dimaksudkan untuk menyelamatkan nyawa. Di Iran, WHO telah memverifikasi 18 serangan terhadap fasilitas kesehatan sejak 28 Februari, yang mengakibatkan 8 kematian di antara petugas kesehatan.
Selama periode yang sama di Lebanon, 25 serangan terhadap fasilitas kesehatan telah mengakibatkan 16 kematian dan 29 cedera. Serangan-serangan ini tidak hanya merenggut nyawa tetapi juga merampas perawatan dari masyarakat ketika mereka sangat membutuhkannya.
Menurut WHO petugas kesehatan, pasien, dan fasilitas kesehatan harus selalu dilindungi berdasarkan hukum humaniter internasional.
Di luar dampak langsung, konflik ini menciptakan risiko kesehatan masyarakat yang lebih luas. Perkiraan saat ini menunjukkan lebih dari 100.000 orang di Iran telah pindah ke daerah lain di negara itu karena ketidakamanan, dan hingga 700.000 orang telah mengungsi di dalam negeri di Lebanon.
Banyak yang tinggal di tempat penampungan kolektif yang padat di bawah kondisi kesehatan masyarakat yang memburuk, dengan akses terbatas ke air bersih, sanitasi, dan kebersihan. Kondisi ini meningkatkan risiko infeksi pernapasan, penyakit diare, dan penyakit menular lainnya, terutama bagi populasi yang paling rentan, seperti perempuan dan anak-anak.




