Ciri Genetik Burung Maleo

Tempat bertelur maleo di pasir panjang Taima Bualemo, Banggai. FOTO: PRISTIWANTO (2014)

Darilaut – Data dan informasi diversitas genetik merupakan aspek yang sangat penting untuk diketahui. Hal ini karena informasi yang diperoleh melalui penelitian laboratorium dapat digunakan sebagai landasan penentuan tujuan dan arah konservasi.

Untuk mengetahui genetik burung maleo sejumlah dosen melakukan penelitian. Para peneliti ini masing-masing I Made Budiarsa (1Jurusan Biologi FMIPA Universitas Tadulako Palu), I Wayan Tunas Artama (Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada), Langkah Sembiring dan Jesmandt Situmorang (Fakultas Biologi, Universitas Gadjah Mada).

Penelitian dengan mengambil sampel darah burung maleo dari 2 habitat yang berbeda. Sampel pertama, di Tanjung Matop, Bakiriang, untuk mewakili habitat pesisir pantai (coastal nesting grounds). Sampel kedua di Desa Pakuli, Saluki, mewakili habitat hutan (in land nesting).

Dua lokasi tersebut sebagai tempat penting di kawasan Sulawesi yang diharapkan dapat mewakili nesting ground maleo di Sulawesi.

Pilihan prioritas di kawasan ini didasarkan pada hasil survei sebelumnya. Kawasan ini masih terdapat burung maleo yang representatif untuk mewakili maleo yang hidup di pantai dan bukan pantai.

Setelah memperoleh sampel, DNA darah diisolasi dan dipakai sebagai cetakan untuk amplifikasi intron satu gen RDP dengan teknik PCR (Polymerase Chain Reaction). Produk PCR selanjutnya disekuensing untuk mendapatkan sekuen DNA kemudian digunakan sebagai dasar untuk mengungkap diversitas genetik maleo.

Tujuan penelitian ini untuk mengungkap diversitas genetik burung maleo berdasar sekuen intron satu gen rhodopsin nukleus dalam rangka menyiapkan data molekular/data base. Selain itu, untuk membantu konservasi burung maleo dan anggota Megapoda yang lain bagi kepentingan penelitian atau pertimbangan pelestarian satwa langka di masa yang akan datang.

Saat penelitian ini dilakukan, informasi tentang diversitas genetik khususnya burung maleo belum pernah dilaporkan.

Untuk mengatasi kendala tersebut, dilakukan penelitian untuk mengungkap diversitas genetik burung maleo dengan pendekatan molekular.

Analisis sekuen DNA diperoleh dari masing-masing individu dan sekuen DNA pembanding
yang diperoleh dari data bases Internasional (DNA Data Bank of Japan, Jepang) digunakan sebagai dasar untuk mengungkap diversitas genetik burung maleo.

Anak maleo muncul dari dalam lubang berpasir. FOTO: NOVAL SULING VIA PRISTIWANTO

Data sekuen DNA RDP1 hasil sekuensing dan sekuen DNA yang diperoleh dari data bases Internasional disimpan dalam MS Words dalam bentuk text file kemudian diedit dengan program PFE (Programmer File Editor).

Sebaran haplotipe burung maleo adalah 3 haplotipe (A,C,E) pada individu sampel asal
habitat pantai (Tanjung Matop/Bakiriang) lebih rendah dari haplotipe yang teridentifikasi dari
habitat hutan (Pakuli/Sakuli) yaitu 6 haplotipe (A,B,C,D,F,G). Haplotipe A dan C adalah haplotype yang umum ditemukan pada dua lokasi.

Frekuensi haplotipe A dan C pada seluruh sampel dari dua lokasi hutan dan pantai yaitu masing-masing 0,40 dan 0,06 sedangkan frekuensi haplotipe D, F, G adalah 0,06 dan frekuensi haplotipe B dan E 0,13. Diversitas genetik (π) intron satu gen RDP sepanjang 807bp adalah 0,0037- 0,013 dan yang tertinggi diidentifikasi dari habitat maleo asal hutan yaitu 0,013.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah haplotipe dan diversitas nucleotide terbesar terdapat pada lokasi maleo asal hutan. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah ini memungkinkan terjadinya penyebaran burung maleo dari lokasi lain, sehingga aliran gen antarpopulasi terjadi dengan teratur.

Kondisi tersebut berbeda dengan individu sampel asal pantai yang memiliki jumlah haplotipe
dan diversitas nukleotide yang rendah. Rendahnya diversitas nukleotide dan jumlah haplotipe
mengindikasikan tingkat perkawinan silang antar individu yang memiliki haplotipe berbeda sangat rendah sebagai akibat adanya isolasi geografis.

Aplikasi sifat genetik dalam konservasi merupakan ilmu yang masih muda dan masih perlu
terus dikembangkan. Langkah awal adalah mengidentifikasi unit-unit konservasi, dalam rangka membantu membuat suatu kebijakan pelestarian satwa langka dengan tetap memelihara keragaman genetik yang ada.

Kesimpulan hasil penelitian ini, analisis diversitas genetik burung maleo dengan intron satu gen rhodopsin teridentifikasi 7 haplotipe dengan diversitas nukleotida sebesar 0,0037- 0,013.*

Sumber: I Made Budiarsa, I Wayan Tunas Artama, Langkah Sembiring, Jesmandt Situmorang. Judul penelitian: “Diversitas Genetik Burung Maleo (Macrocephalon Maleo) Berdasarkan Intron Satu Gen Rhodopsin Nukleus (RDP1)” diterbitkan dalam Prosiding Seminar Nasional Penelitian, Pendidikan dan Penerapan MIPA, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Yogyakarta, 16 Mei 2009.*

Exit mobile version