Di Tangkoko, Maleo Bersarang di Bukit Dekat Pantai

Burung maleo (Macrocephalon maleo). FOTO: HANOM BASHARI/EPASS

Darilaut – Di pantai berpasir Batu Putih, Tangkoko, naturalis Alfred Russel Wallace pada 1859 mendeskripsikan burung maleo secara detail. Maleo, burung endemik Sulawesi ketika itu, masih dalam jumlah banyak.

Kini maleo sudah tidak lagi bersarang di lokasi pengamatan Wallace. “Lokasinya sudah jadi kampung Batuputih sekarang,” kata Protected Area Specialist EPASS (Enhancing Protected Area System in Sulawesi) Tangkoko, Edyson Maneasa.

Maleo (Macrocephalon maleo) datang ke pantai, tapi bukan untuk bertelur. Untuk mengetahui mengapa maleo tidak lagi bersarang di pantai berpasir, Edyson bersama pegiat konservasi maleo menyelidiki musababnya.

Telah terjadi beberapa pergeseran tempat peneluran maleo yang ada didekat pantai di Tangkoko. Dari hasil penyelidikan, tanah di lokasi tempat bersarang maleo sebelumnya makin padat.

“Ternyata di samping tanahnya yang padat, suhu sudah tidak mencapai panas yang ideal untuk pengeraman telur,” ujar Edyson, Jumat (12/6).

Di lokasi tempat bersarang maleo sekarang berada di bukit. Terdapat 5 pasang maleo yang ke lokasi yang berjarak 100 sampai 200 meter dari pasang tertinggi.

Sedikitnya, ada 3 lokasi peneluran maleo di Tangkoko. Selain yang di bukit, ada yang di dalam hutan, 5 kilo meter dari pasang tertinggi.

Ditempat ini terdapat sumber panas bumi. Untuk memudahkan pengamatan, telah dibangun menara pemantau di 2 lokasi peneluran.

EPASS mulai berkegiatan di Tangkoko, pada 2016. Langkah awal yang dilakukan dengan membersihkan areal peneluran di Rumesung.

Pembersihan lokasi dilakukan tiap 3 bulan sekali. Pada 2018, EPASS kemudian menanam pohon pelindung karena di Rumesang didominasi alang-alang.

Jenis yang ditanam pohon mangga dan linggua. Selain, pohon lain yang ditanam jenis kemiri, ganemo dan pohon gamal.

Di bukit tempat maleo bersarang, memiliki campuran lempung (tanah liat) dan kerikil. Terdapat sumber panas bumi di lokasi tersebut.

Menurut Edyson, menghindari pemangsaan telur maleo di alam, dilakukan pemasangan jerat untuk biawak (soa-soa) yang merupakan predator utama.

Untuk memperoleh hasil monitoring keberadaan satwa ini di alam, dipasang camera trap, pada 2019. Camera trap berada didekat lokasi peneluran.

Camera trap atau kamera jebakan, sudah lama dikenal sebagai alat monitoring yang efektif dan hasil yang lebih akurat. Alat ini sangat membantu dalam upaya konservasi satwa liar.

Peralatan dalam camera trap dilengkapi sensor gerak dan sensor panas (termal). Selama dipasang ditempat yang tepat, sensor langsung aktif saat ada pegerakan atau suhu berbeda dengan lingkungan di area cakupan sensor.

Di Tangkoko, sudah lama dilakukan upaya konservasi untuk terus melestarikan habitat tumbuhan dan satwa. Ahli kehutanan Sijfert Hendrik Koorders, melalui Perkumpulan Perlindungan Alam Hindia Belanda (Nederlandsch Indische Vereeniging tot Natuurbescherming) telah mengusulkan ke Pemerintah Hindia Belanda untuk dijadikan monumen alam.

Keberadaan kawasan Tangkoko dan sekitarnya sebagai monumen alam ditetapkan pemerintah Hindia Belanda pada 1919.

Ilustrasi. HANOM BASHARI/EPASS

Sementara itu, di wilayah Saluki, di Provinsi Sulawesi Tengah, juga terdapat tempat bersarang burung maleo yang masih aktif. Lokasi ini berada di kawasan hutan kawasan Taman Nasional Lore Lindu.

“Kegiatan kami survey nesting ground maleo di wilayah saluki,” kata koordinator lapangan EPASS Lore Lindu, Ilfianti.

Menurut Protected Area Specialist EPASS Lore Lindu Arif Arianto, untuk menunjang sanctuary maleo di dalam kawasan, perlu penelitian yang berkaitan dengan risiko dan mitigasi.

Protected Area Specialist EPASS Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Hanom Bashari, mengatakan, yang harus dilakukan adalah melindungi lokasi peneluran, mempertahankan hutan yang tersisa dan terdekat, melindungi serta memulihkan area koridor.

Telur burung maleo sejak masa lalu sebagai sumber pangan. Orientasi memanfaatkan telur maleo dan berburu maleo berubah dengan adanya perlindungan satwa ini.

Ikhtiar yang harus dilakukan untuk keberlanjutan dan upaya pelestarian Maleo Senkawor di Sulawesi agar kembali menjadi lebih banyak dengan menghentikan total perburuan maleo dewasa dan pengambilan telur.

Selain predator di alam, sudah banyak pelajaran yang dapat dipetik dari berbagai wilayah atas hilangnya dan menyusutnya populasi maleo akibat pengembangan kawasan yang tidak tepat.*

Exit mobile version