Darilaut – Untuk melindungi pekerja dari peningkatan stres akibat panas, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) telah menerbitkan laporan dan panduan bersama. Saat ini, diperkirakan separuh populasi global menderita dampak buruk dari suhu tinggi.
Laporan dan panduan baru tersebut menyoroti tantangan kesehatan global yang semakin meningkat akibat panas ekstrem terhadap pekerja.
Who dan WMO menyoroti frekuensi dan intensitas kejadian panas ekstrem telah meningkat tajam. Hal ini meningkatkan risiko bagi pekerja di luar ruangan maupun di dalam ruangan.
Menurut Who dan WMO, produktivitas pekerja turun 2–3% untuk setiap derajat di atas 20°C. Risiko kesehatan meliputi sengatan panas, dehidrasi, disfungsi ginjal, dan gangguan neurologis, yang semuanya menghambat kesehatan jangka panjang dan keamanan ekonomi.
Dalam siaran pers WMO, seiring perubahan iklim memicu gelombang panas yang lebih sering dan intens, banyak pekerja yang secara teratur terpapar kondisi panas berbahaya sudah merasakan dampak kesehatan dari kenaikan suhu. Khususnya pekerja manual di sektor-sektor seperti pertanian, konstruksi, dan perikanan.
Meningkatnya episode panas juga menyebabkan masalah kesehatan bagi populasi rentan di negara-negara berkembang, seperti anak-anak, lansia, dan populasi berpenghasilan rendah.




