Selanjutnya, plastik mulsa direkatkan di setiap bagian anak tangga sehingga air yang dimasukkan tidak akan merembes ke kayu sengon.
Langkah terakhir adalah memberikan tutupan plastik mika. Harga per alatnya berkisar Rp300.000 dan dapat lebih murah jika menggunakan kayu bekas.
“Konsep alat yang kami usung ini mengandalkan evaporasi. Alat ini mampu menampung 20 L air. Cara kerjanya, air payau atau asin yang dimasukkan ke dalamnya akan dijemur di bawah terik matahari,” kata anggota tim pengabdian masyarakat ITB yang juga penanggung jawab pembuatan alat, Filan Muhammad, seperti dikutip dari Itb.ac.id, Rabu (29/6).
Ketika proses penguapan terjadi, garam yang memiliki massa lebih berat akan tertinggal di plastik mulsa sementara air murni akan menguap dan menempel pada bagian dalam plastik mika.
“Karena plastik mika memiliki kemiringan, air bebas garam tadi akan turun ke wadah penampungan,” ujar Filan.
Mahasiswa Oseanografi ini mengatakan, jumlah air tawar yang dikeluarkan adalah 40% dari total air yang dimasukkan. Proses desalinasi ini bergantung pada intensitas cahaya matahari yang diberikan.
Kelurahan Degayu merupakan wilayah yang cocok untuk tempat uji coba alat ini karena memiliki curah hujan yang rendah dan memiliki suhu panas khas daerah pesisir. Air yang dihasilkan mampu digunakan masyarakat untuk mandi.





Komentar tentang post