“Air yang dihasilkan benar-benar murni H2O tanpa mineral apapun. Oleh karena itu, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk kelayakannya sebagai air minum,” kata Salwa Azharelfa, anggota tim lainnya.
Sementara alat filtrasi yang dibuat, menggunakan beberapa lapis penyaring. Lapisan tersebut berturut-turut dari atas adalah spons–zeolite/manganese–spons–arang–spons–silika–spons– sabut kelapa–spons.
“Zeolite/manganese berguna untuk menyerap kation logam berat. Sedangkan arang untuk menyerap bau, menjernihkan air, dan menghilangkan kotoran. Kami memilih silika untuk mengurangi padatan tersuspensi pada air dan menjadikan sabut kelapa sebagai penyaring kotoran pada air,” kata Ketua Tim Peduli Pesisir ITB, Riyadi Zakia.
Pembuatan alat filtrasi tersebut hanya memakan biaya kurang lebih Rp50.000. Pengaplikasiannya dapat diletakkan pada jalur air dari tandon air setiap rumah sehingga dapat digunakan langsung.
Setelah diuji menggunakan water quality meter, air hasil filtrasi memiliki tingkat kekeruhan yang lebih rendah dan penurunan pH mencapai 0,06.
Tim Peduli Pesisir ITB tidak hanya menjelaskan cara kerja alat, tetapi turut mengajak masyarakat setempat untuk bersama-sama praktik membuat alatnya. Masyarakat berduyun-duyun ikut membuat dua alat tersebut.





Komentar tentang post