Karena itu, gerhana ini dapat disebut sebagai gerhana bulan total perige atau dikenal pula sebagai Super Blood Moon, mengingat saat fase totalitas Bulan akan terlihat kemerahan.
Komunikator astronomi dan pengelola Langitselatan.com, Avivah Yamani, menjelaskan Bulan di perigee mencapai jarak terdekat dengan Bumi, yakni 357.311 kilo meter. Karena berada pada jarak terdekat dari Bumi, kenampakan piringan Bulan jadi lebih besar sekitar 14% dan 30% lebih terang, jika dibanding saat Bulan berada di titik terjauh atau apogee.
Namun, untuk pengamat di Bumi, perbedaan ini sangat kecil sehingga sulit dikenali.
Setiap Bulan Purnama, Bumi berada di antara Bulan dan Matahari. Akan tetapi, gerhana bulan tidak terjadi setiap Bulan mencapai fase Purnama. Hal ini disebabkan oleh orbit Bulan yang miring 5º dibanding orbit Bumi. Akibatnya, ada saatnya Bulan tidak selalu masuk dalam bayang-bayang Bumi yang menyebabkan Matahari terhalang.
Gerhana Bulan terjadi ketika Bulan memasuki bayang-bayang inti Bumi atau umbra Bumi dan menghilang dari pandangan pengamat di Bumi. Seharusnya, Bumi jadi gelap seperti halnya gerhana Matahari, karena Bulan tidak menerima cahaya Matahari untuk dipantulkan.
Menurut Avivah, ternyata tidak demikian. Bulan tidak menghilang tapi berwarna merah seperti bata atau darah. Warna merah itu berasal dari cahaya Matahari yang bisa lolos melewati atmosfer Bumi dan mencapai Bulan.





Komentar tentang post