Keberadaan dari materi gelap disimpulkan merupakan efek gravitasi yang ditimbulkannya pada benda-benda langit lainnya. Pada sebagian besar manusia, ini sudah diketahui sebagai black hole atau lubang hitam.
Apakah di globular cluster (gugus bola) itu juga ada materi gelap?
Eliani, wanita diaspora Indonesia yang sudah berkarir sebagai dosen dan peneliti astronomi sejak awal 2000-an ini memberikan mengatakan jika dilihat dari dinamika bintang-bintangnya ternyata ada kemiripin atau flattening pada kurva rotasi bintang-bintang anggota gugus.
Flattening adalah pola kurva rotasi yang relatif datar, artinya ada dinamika yang menggerakan bintang-bintang di bagian tepi gugus yang bergerak lebih cepat dari semestinya.
Dengan memperhitungkan bintang-bintang yang tampak, kurva rotasi itu mestinya menurun.
Eliani merinci, cara membuktikannya tidak bisa menggunakan pengamatan, karena materi gelap tidak bisa teramati langsung. Sehingga, dirinya menggunakan simulasi numerik dengan N-body problem perhitungan dinamika dengan banyak partikel materi.
Hasil penelitiannya menunjukkan, materi gelap ada di gugus bola itu yang menyebabkan pola flattening pada kurva rotasi tersebut.
Proporsi dari materi gelap dan bintang-bintang kian bertambah ke arah tepi. “Pada pusat gugus bola materi gelap sekitar 10 persen, tetapi di arah tepi gugus mencapai sekitar 80 persen,” ujarnya.




