Belum jelas apakah perubahan iklim menjadi penyebab runtuhnya material gunung pada hari Rabu tersebut. Namun, pemanasan global dengan cepat mengubah lingkungan dataran tinggi tempat bencana semacam itu terjadi. Seiring mencairnya gletser dan melunaknya lapisan tanah beku abadi (permafrost), batuan yang sebelumnya ditopang atau diikat oleh es bisa menjadi tidak stabil, sementara peningkatan volume air lelehan dapat semakin melemahkan lereng gunung.
Dampaknya meluas jauh melampaui desa-desa di pegunungan. Wilayah Hindu Kush Himalaya menjadi sumber bagi 10 daerah aliran sungai utama yang menopang kehidupan sekitar 2,1 miliar orang dalam hal penyediaan air, pangan, energi, dan mata pencaharian.
Korban Tewas Bertambah
Hingga Sabtu (29/8) Nepal dan Cina melanjutkan operasi penyelamatan banjir saat jumlah korban tewas mendekati 600 orang
Jumlah korban tewas akibat bencana ini terus meningkat, otoritas penanggulangan bencana Nepal melaporkan setidaknya 579 orang tewas dan hampir 2.000 orang hilang.
Tim penyelamat mengevakuasi korban selamat yang tubuhnya dipenuhi lumpur berwarna cokelat tua dan helikopter mengangkut warga yang terjebak ke tempat aman.

Upaya penyelamatan mencakup pengerahan tim yang turun menggunakan tali (rappelling) ke area pos lintas batas yang rusak parah di sisi perbatasan wilayah Cina. Tim penyelamat bersiaga penuh menghadapi kemungkinan banjir lanjutan dari danau baru yang terbentuk di ketinggian pegunungan Himalaya setelah banjir awal pada hari Rabu.




