Disinilah skill seorang nelayan diuji dan nyawa dipertaruhkan. Namun bagi Usman, ketika seseorang telah memutuskan untuk menjadi nelayan, maka harus siap dengan segala risiko yang ada di laut.

Panas, hujan, angin, ombak adalah keseharian yang dihadapi selama melaut.
“Nelayan harus punya mental yang kuat, tidak bisa lembek. Hujan dan panas tidak bisa dihindari, cara satu-satunya adalah berani menghadapi segala risiko itu,” ujarnya.
Melaut atau tidak di musim angin timur menjadi pilihan masing-masing nelayan.
Usman memiliki mata pencarian sambilan, mulai dari menjadi kuli bangunan hingga pekerjaan seperti mengumpulkan batu-batu gunung untuk dijual.
Walaupun pekerjaan nelayan adalah mata pencarian utama, namun hasilnya hanya cukup untuk makan sehari-hari keluarganya.
”Butuh pekerjaan sampingan untuk menunjang kebutuhan keluarga,” kata Usman.
Memperingati Hari Nelayan Nasional, tanggal 6 April ini, Usman dan nelayan lainnya berharap pemerintah lebih membuka mata terhadap isu kesejahteraan nelayan. Nelayan tergolong pekerjaan yang berisiko.
Nelayan merupakan salah satu profesi termiskin di negeri ini. Hal ini dibuktikan dengan data Survei Sosio Ekonomi Nasional (SUSENAS) tahun 2017 yang dilakukan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad Prof. Dr. Zuzy Anna dan tim, “Sebanyak 11,34% orang di sektor perikanan tergolong miskin, lebih tinggi dibandingkan sektor pelayanan restoran (5,56%), konstruksi bangunan (9,86%), serta pengelolaan sampah (9,62%),”




