Darilaut – Krisis lingkungan yang melanda berbagai wilayah di Indonesia dan dunia dinilai sebagai cerminan nyata dari relasi manusia dengan alam yang semakin timpang. Di tengah meningkatnya kerusakan ekosistem, pendekatan ekoteologi dan kearifan lokal kembali menjadi sorotan sebagai solusi yang tidak hanya ilmiah, tetapi juga spiritual dan berbasis nilai budaya. Hal tersebut mengemuka dalam Webinar bertema “Spiritualitas Islam dan Kepercayaan Lokal dalam Konservasi Lingkungan untuk Ekonomi Berkelanjutan di Indonesia”, yang digelar secara hybrid di Jakarta pada Rabu (19/11).
Aji Sofanudin, Kepala Pusat Riset Agama dan Kepercayaan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menegaskan bahwa ekoteologi hadir sebagai respon moral dan spiritual atas krisis lingkungan global. Ia menyampaikan bahwa kesadaran untuk menjaga alam bukan hanya tugas ekologis, tetapi juga bagian dari ibadah.
“Ekoteologi mengajarkan bahwa merawat alam merupakan bentuk penghambaan kepada Tuhan. Karena itu, memulihkan hubungan manusia dan lingkungan harus dimulai dari kesadaran spiritual,” ujar Aji.
Aji juga menekankan bahwa kajian ekoteologi telah menjadi prioritas di Kementerian Agama, sejalan dengan upaya penguatan peran agama dalam isu-isu pembangunan berkelanjutan. Ia berharap webinar ini mampu menjadi ruang tukar gagasan yang mendalam mengenai hubungan antara Islam, kepercayaan lokal, dan konservasi lingkungan, serta memberi arah baru bagi pendekatan kebijakan yang lebih holistik.




