Misi tersebut dilakukan untuk persiapan pelaksanaan intervensi Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM) dalam peningkatan pengelolaan perikanan lobster di lokasi percontohan proyek Global Environment Facility (GEF) 5 – Enabling Transboundary Cooperation For Sustainable Management Of The Indonesian Seas (ISLME).
ISLME National Project Officer, Muhammad Lukman mengatakan pentingnya sinkronisasi kerangka peraturan dengan konteks perikanan lobster saat ini serta berbagai kebutuhan, inisiatif, dan aspirasi para pembudidaya lobster untuk pengembangan perikanan lobster ke depannya sebagai produk unggulan lokal.
Para pemangku kepentingan di lapangan dapat menyumbangkan rekomendasi yang tepat sasaran untuk diwujudkan dalam kegiatan lapangan yang konkrit serta alokasi anggaran yang memadai.
Sejalan dengan implementasi penangkapan ikan terukur, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus berkomitmen mengelola perikanan lobster secara berkelanjutan. Upaya yang dilakukan melalui pendekatan ekosistem didasari data dan rekomendasi kajian ilmiah.
Menurut Aris Budiarto yang mewakili Direktur Pengelolaan Sumber Daya Ikan terdapat beberapa isu dan permasalahan lobster di Teluk Awang, Teluk Bumbung dan Teluk Gerupuk, Nusa Tenggara Barat.
Antara lain menurunnya produksi lobster konsumsi (>200gram/ekor), masih adanya penggunaan alat penangkapan yang tidak amah lingkungan, rendahnya partisipasi pemangku kepentingan dalam pengelolaan lobster, dan rendahnya kepatuhan terhadap peraturan.





Komentar tentang post