Gempa bumi tersebut memiliki episentrum di lepas pantai yang terletak 32 kilometer di sebelah barat Maasim, Sarangani. Gempa berada di kedalaman sekitar 33 kilometer.
Berdasarkan lokasi gempa bumi dan distribusi gempa susulan, gempa tersebut mungkin disebabkan oleh subduksi di sepanjang Palung Cotabato.
Gempa susulan ini dapat berlangsung selama beberapa hari hingga beberapa minggu, dan beberapa mungkin terasa di provinsi-provinsi terdekat.
Peristiwa gempa Sarangani telah memicu tsunami. Gelombang tsunami tercatat di sepanjang pantai Kiamba dan Maasim, Sarangani, dan Kalamansig, Sultan Kudarat, dengan ketinggian sekitar 1 meter, berdasarkan data dari Stasiun Pemantauan Permukaan Laut DOST-PHIVOLCS. Gelombang tsunami dengan ketinggian kurang dari 1 meter juga tercatat di Kota Mati dan Kota Zamboanga.
Penilaian Awal
Penilaian awal menunjukkan bahwa Kota General Santos adalah yang paling parah terkena dampak ketika gempa terjadi pada Senin pukul 7.37 pagi hari Senin di Laut Sulawesi.

Hingga Selasa pukul 07.00 pagi, Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina mencatat 1.055 gempa susulan, dengan magnitudo berkisar antara 1,3-6,7.
Jumlah korban tewas akibat gempa lepas pantai Sarangani, meningkat menjadi 37 orang. Melansir Kantor Berita Filipina, Philippine News Agency (PNA) Wakil juru bicara Kantor Pertahanan Sipil (OCD), Diego Agustin Mariano, mengatakan hingga Selasa (9/6) pukul 06.00, tercatat empat korban tewas di Wilayah 11 (Davao) dan 33 di Wilayah 12 (SOCCSKSARGEN).



