Fenomena perubahan iklim yang menyebabkan cuaca ekstrem diduga pula sebagai salah satu faktor air laut menjadi keruh akibat hujan deras.
Jaringan Advokasi Pengelolaan Sumber Daya Alam (Japesda) telah memulai pendampingan khusus perikanan gurita dengan memberikan penyadartahuan serta pemahaman kepada masyarakat perihal pentingnya menjaga ekosistem laut sebagai habitat gurita.
Setiap tahun, Japesda bersama nelayan gurita rutin melakukan penutupan area tangkap. Hasilnya dirasakan oleh para nelayan, gurita melimpah dan memiliki berat 1 sampai 2 kg lebih.
Tahun ini, dua pekan setelah pembukaan area penutupan, nelayan tak mendapatkan gurita.
Area tutupan di perairan Bilalang seluas 95 hektar atau 950.000 m² atau secara visual setara dengan sekitar 133 lapangan sepak bola.
“Di tahun 2025 kami bersama nelayan gurita baru satu kali melakukan penutupan sementara dimulai pada tanggal 25 April sampai 25 Juli,” kata Indhira Faramita Moha, Fasilitator di Desa Uwedikan.
Setelah dibuka area tangkap pada 26 Juli, para nelayan kembali melaut. Namun ”hasilnya tak sesuai dengan harapan mereka. Seekor pun gurita tidak berhasil dibawa ke darat,” ujarnya.
Indhira mencoba mencari tahu penyebabnya dengan berdialog dengan para nelayan. Sejumlah nelayan menjelaskan ada penangkap teripang yang memasuki area tutupan.




