Sinkronisasi temuan lapangan dengan data manuskrip memperlihatkan adanya benang merah pengetahuan turun-temurun yang sebagian masih diwariskan, sebagian lagi hampir punah.
Perpustakaan Nasional RI juga menegaskan potensi besar yang tersimpan di balik manuskrip kuno ini. I Wayan Pande Sumardika menjelaskan bahwa koleksi Primbon Padukunan (14 L 592) mencatat sekitar 140 jenis tanaman obat dan 84 jenis penyakit, yang dapat menjadi landasan penyusunan ensiklopedia tanaman obat Merapi-Merbabu. Pendataan ini disebut penting sebagai upaya menjaga kesinambungan pengetahuan kesehatan tradisional Jawa.
Sementara itu, Adi Wisnu Nurutomo menambahkan bahwa naskah Merapi-Merbabu merupakan bagian penting dari sejarah intelektual Jawa pasca-Majapahit.
“Pengetahuan yang disimpan para pendeta di pegunungan ini penting dikembalikan kepada masyarakat pewarisnya.”
Penegasan ini memperlihatkan urgensi upaya revitalisasi agar pengetahuan adiluhung ini tidak hilang dimakan waktu.
Kolaborasi antara BRIN, Perpusnas, TNGM, dan akademisi menjadi langkah strategis dalam menghidupkan kembali tradisi penyembuhan Nusantara. Ke depan, penelitian lanjutan diharapkan dapat menghasilkan publikasi ilmiah, uji klinis, hingga produk informasi yang aman dan bermanfaat bagi masyarakat. Upaya ini juga dinilai mampu membuka ruang bioprospeksi berkelanjutan berbasis kearifan lokal serta memperkuat literasi kesehatan tradisional bagi generasi mendatang.




