“Di dalam manuskrip ini terdapat berbagai cara penanganan penyakit, termasuk yang jarang ditemukan saat ini. Pengetahuan tersebut merupakan warisan berharga yang perlu dimanfaatkan kembali,” kata Suyami.
Ia menambahkan bahwa penelitian ini menekankan tiga aspek: pengungkapan formula obat tradisional, pemetaan keragaman flora di kawasan Merapi-Merbabu, serta peluang pengembangan bioprospeksi yang berpotensi memberikan manfaat luas bagi kesehatan masyarakat modern.
Untuk memperkuat penelitian, BRIN bersama TNGM melakukan pencocokan daftar tanaman obat yang tercatat dalam manuskrip dengan kondisi flora aktual di kawasan Merbabu. Hasil awal memperlihatkan keterkaitan yang cukup signifikan. Dari proses identifikasi, ditemukan 11 jenis tanaman obat yang cocok dengan catatan naskah, 21 jenis berpotensi kuat tumbuh di lereng Merbabu, dan sebagian lainnya belum dikenal secara lokal maupun belum teridentifikasi secara ilmiah.
Ekowati, perwakilan TNGM, memaparkan hasil survei etnobotani yang dilakukan di lima resort kawasan TNGM dengan melibatkan 96 responden. Survei tersebut berhasil mengidentifikasi 203 jenis tanaman obat yang selama ini digunakan masyarakat sekitar. Dari jumlah itu, sebanyak 56 jenis kemudian dipilih sebagai tanaman obat prioritas dengan pendampingan ilmiah dari Fakultas Biologi UGM.
“Hasil survei menunjukkan pola penggunaan tanaman obat mulai menurun karena dianggap rumit, tetapi sebagian pengetahuan tradisional masih bertahan.”




