Dengan keberhasilan tersebut, kata Ryan, Spanyol melebarkan kekuasaannya ke Filipina dan berlanjut dengan upaya pendudukan di Maluku yang merupakan penghasil rempah utama di Indonesia.
Koneksi yang terbangun dua ratus tahun lalu antara Indonesia, Filipina dan Meksiko merupakan kunci dari jalur perdagangan rempah yang beredar di pasar global Eropa.
Ryan mengatakan penelitian saat ini berfokus pada kajian sejarah terkait rempah di Indonesia bagian timur, bagaimana kekuatan Eropa masuk dan memantik konflik di tingkat lokal antar kerajaan di Ternate dan Tidore.
”Penelitian ini juga bertujuan untuk menelusuri lebih detail perbedaan implementasi semboyan bangsa Eropa yaitu gold, glory dan gospel di masa pendudukan Spanyol dan Belanda,” kata Ryan.
Indonesia, sejak beberapa abad lalu tersohor sebagai gudangnya rempah-rempah dunia. Begitu berharganya rempah-rempah pada masa tersebut, sehingga menjadi daya tarik utama bangsa asing mengarungi samudera. Mereka ingin mendapatkan rempah-rempah langsung dari sumbernya.
Menurut Ryan, perang rempah merujuk pada serangkaian konflik antara bangsa Eropa yakni Spanyol, Portugis, Belanda dan Inggris untuk memonopoli perdagangan rempah dunia.
Spanyol bertujuan untuk kepentingan dagang semata, sedangkan Hindia Belanda ingin menguasai sepenuhnya dari aspek ekonomi, kemasyarakatan hingga sektor pemerintahan, kata Ryan.




