Dalam penelitian tahap selanjutnya, Ryan akan melakukan site visit ke beberapa daerah yakni Ternate, Tidore, Makassar, dan Ambon untuk mengumpulkan kepingan riwayat sejarah dari kisah masyarakat lokal.
Peneliti Kelompok Riset Warisan Budaya PRMB BRIN, Dedi Adhuri, membahas riset yang berfokus pada isu-isu maritim kontemporer.
Dedi menyarankan suatu pendekatan dalam penelitian yaitu sejarah lisan dan tradisi lisan layak digunakan dalam penelitiannya.
“Selain kajian rempah, sebaiknya juga melibatkan komunitas yang menghubungkan jalur maritim di Maluku. Selain itu juga mengangkat tentang komoditas lokal di sana yakni teripang,” kata Dedi.
Berbeda dengan rempah yang berdimensi sangat politis, yang selalu memicu terjadinya konflik dan peperangan, komoditas teripang tidak bersentuhan dengan konteks politik.
Secara harmonis menghubungkan masyarakat Maluku dengan dunia luar, seperti Australia dan Cina.
Perang rempah merupakan suatu periode “kelam” Indonesia, di mana kekayaan alam Nusantara yang berlimpah.
Hal ini menjadi daya tarik yang memicu konflik global yang berujung pada penjajahan selama berabad-abad.
Dengan diadakannya forum budaya ini, diharapkan dapat menjadi landasan untuk menggali potensi kolaborasi lebih lanjut dalam riset jalur rempah dan warisan budaya Indonesia, ujar Ryan.




