Jakarta – Pemerintah Indonesia menargetkan luas kawasan konservasi laut 20 juta hektare, pada tahun 2020. Untuk menjaga ekosistem laut tersebut, pemerintah tidak bisa sendirian.
“Masyarakat, terutama anak-anak muda harus banyak berperan,” kata Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan- Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Rifky Effendi Hardijanto.
Rifky hadir sebagai pembicara kunci, seri talkshow yang selenggarakan USAID-SEA bekerja sama dengan KKP di Pacific Place Mall Rabu (11/7) di Jakarta. Talkshow ini dihadiri 100-an anak muda, terutama mahasiswa.
Rifky mengajak anak muda untuk lebih berperan pada kesehatan ekosistem laut. Karena anak muda sekarang yang akan menerima warisan nanti. “Bila laut tidak sehat, keadaan kesehatan juga akan terganggu,” ujarnya.
Laut adalah sumber protein. Mengonsumsi hasil laut yang tidak sehat, akan berbahaya bagi tubuh. Penggunaan plastik berlebihan yang kemudian dibuang atau sampai ke laut, akan mengganggu ekosistem.
Menurut Rifky, untuk menjaga dan mempertahankan kelangsungan sumberdaya laut, penangkapan ikan tidak bisa dilakukan secara serampangan. “Penangkapan ikan yang tidak bertanggung-jawab, dapat dipastikan ekosistem juga akan terganggu,” katanya.
Seperti penangkapan ikan hiu. Penangkapan hiu untuk diambil siripnya, masih marak terjadi dan akan mempengaruhi ekosistem. Demikian halnya dengan pembabatan hutan mangrove.
Seri 2 Talkshow ini dengan tema “Fish for the future: ensuring healthy fisheries and communities.” Dengar nara sumber Trian Yunanda sebagai Kasubdit Pengelolaan Sumber Daya Ikan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia dan Laut Lepas, Sven Blankenhorn konsultan Fair Trade, Robert Djoanda Direktur PT Harta Samudera dan Rustam Ketua Komite Fair Trade Pulau Buru, Maluku. Moderator talkshow Eny Buchary, Ekologi Perikanan.*





Komentar tentang post