“Kami membutuhkan data untuk memahami bagaimana perubahan iklim memengaruhi sistem air kami, untuk memahami di mana, berapa banyak, dan dalam kualitas apa air tersedia dan akan tersedia. Kita membutuhkan informasi untuk mengetahui di mana dan bagaimana tindakan kita dapat mendukung akses kita ke sumber daya yang berharga dan melindungi kita dari bahaya air dan bencana. Data juga merupakan kunci untuk pengambilan keputusan yang cerdas. Namun ada kesenjangan besar, datanya tersebar, tidak konsisten, dan tidak lengkap,” tulis Call for Action.
Ini terutama berlaku untuk air tanah. Hanya 0,5% air di Bumi yang dapat digunakan dan tersedia sebagai air tawar.
Namun dalam 20 tahun terakhir, penyimpanan air terestrial – semua air di permukaan tanah dan di bawah permukaan, termasuk kelembaban tanah, salju dan es – telah turun pada tingkat yang lebih tinggi dari total konsumsi air manusia per tahun.
Ini memiliki konsekuensi besar untuk ketahanan air di masa depan, mengingat peningkatan populasi dan degradasi lingkungan, menurut laporan WMO State of Climate Services for Water, yang dikeluarkan tahun lalu.
Kualitas air tanah pada umumnya baik. Artinya dapat digunakan secara aman dan terjangkau, tanpa memerlukan pengolahan tingkat lanjut.
Air tanah seringkali merupakan cara yang paling hemat biaya untuk menyediakan pasokan air yang aman ke desa-desa.





Komentar tentang post