Arus lintas Indonesia sangat berperan memfasilitasi pergerakan mikroplastik dari Pasifik ke Samudra Hindia.
Ocky menjelaskan saat ini masih belum memungkinkan untuk menghilangkan keberadaan mikroplastik, tetapi masih dapat diupayakan untuk mengurangi mikroplastik yang ada.
Selain itu, kata Ocky,”belum ada teknologi yang secara cepat atau real time dalam mengukur kandungan mikroplastik yang ada di dalam air.”
Ocky mengatakan, diperlukan riset terkait sampah laut (marine debris) dan mikroplastik yang ada di lautan, baik skala nasional, regional, maupun global.
Kegiatan ini memerlukan kolaborasi dan interkoneksi, tidak hanya fokus dengan masalah mikroplastik yang ada di laut, tetapi harus bisa menyelesaikan permasalahan yang ada di darat.
“Permasalahan sampah mikroplastik di laut tidak bisa jika hanya dilakukan oleh Indonesia dan perlu berkolaborasi dengan negara lain,” ujarnya.
Kontaminasi mikroplastik telah masuk ke dalam beberapa rantai input produksi sistem budidaya laut dan payau di Indonesia, serta hampir di seluruh anggota ekonomi APEC.
“Mikroplastik menjadi tanggung jawab bersama anggota ekonomi APEC,” kata Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Perikanan BRIN yang juga Project Overseer Hatim Albasri.
Hatim mengatakan, tujuan akhir dari kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari ini adalah merancang rekomendasi mitigasi untuk mengurangi atau menghilangkan kontaminasi mikroplastik dalam produk budi daya laut yang mencakup budidaya payau dan laut, dalam kerangka menjamin keamanan dan kesehatan produk pangan.




