“Bagi kami yang tinggal di wilayah antara Matakani hingga Jasini, kami tidak lagi memiliki kelapa yang bagus,” ujarnya.
“Jika ingin mendapatkan kelapa berukuran besar, Anda harus pergi ke tempat-tempat seperti Mafisi atau Mseko dan wilayah yang lebih tinggi lagi. Di sanalah kelapa masih bisa tumbuh besar.”
Perubahan ini menghadirkan dilema tersendiri bagi sebagian pemilik lahan. Seiring meluasnya intrusi air asin, tanaman bakau semakin banyak tumbuh di area yang dulunya merupakan tempat tumbuhnya pohon kelapa.
Namun, menurut Iddi, tanaman bakau dilindungi oleh hukum Tanzania, sehingga para petani tidak bisa begitu saja menebangnya.
“Berdasarkan peraturan pemerintah, tanaman bakau dan pohon kelapa harus ‘bersaing’, dan tanaman mana pun yang mampu bertahan, itulah yang akan tetap ada,” katanya.
“Akan tetapi, jika pemilik lahan menebang bakau, hal itu dianggap sebagai pelanggaran serius karena melanggar ketentuan hukum pemerintah.”




