Usus itu tidak bisa dilalui kalau ukurannya mikroplastik, maka akan keluar melalui feses. Kalau melalui udara bisa, tapi ukurannya harus sangat kecil, kata Prof Etty.
Paparan melalui udara berkaitan dengan partikel polutan seperti PM2.5 dan PM1.0. Namun, partikel yang berpotensi masuk lebih dalam ke tubuh adalah PM1.0, yakni partikel dengan ukuran kurang dari satu mikron atau seperseribu milimeter.
Nanoplastik juga diduga dapat masuk ke organ lain seperti otak dan air ketuban, tetapi ukurannya harus sangat kecil. Hal ini karena setiap makanan dan minuman yang dikonsumsi akan melalui proses pencernaan terlebih dahulu sebelum dapat diserap ke dalam darah.
Terkait deteksi mikroplastik dalam tubuh manusia, menurut Prof. Etty, pemeriksaan tidak dapat hanya mengandalkan mikroskop biasa. Sejumlah metode analisis lanjutan diperlukan untuk memastikan keberadaan partikel plastik.
Beberapa teknologi yang dapat digunakan antara lain fourier transform infrared spectroscopy (FTIR), gas chromatography-mass spectrometry (GC-MS), mikroskop elektron, serta spektroskopi mikro-Raman.
Menurut Prof. Etty, penggunaan mikroskop saja berisiko menimbulkan kesalahan identifikasi. Partikel yang terlihat, bisa saja merupakan plankton atau senyawa lain, bukan mikroplastik.



