“Rakyat hidup dengan logika digital. Negara harus mengejar ritme itu. Jika tidak berubah, maka distrust akan membesar dengan cepat.”
Forum diskusi ini juga dihadiri tokoh lintas sektor, di antaranya: Andi Widjajanto, analis kebijakan dan politisi PDIP, Atmaji Sapto Anggoro, praktisi big data & AI, H. Oleh Soleh, anggota Komisi XI DPR, Muhammad Sarmuji, Sekjen Partai Golkar, Muhammad Kholid, Sekjen PKS, dan Yuhronur Efendi, Bupati Lamongan. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa tantangan demokrasi, hukum, ekonomi, dan tata kelola negara membutuhkan kolaborasi lintas disiplin.
Menutup diskusi, Neni menegaskan bahwa tantangan Indonesia bukan pada ketersediaan data, melainkan kemampuan kolektif untuk menggunakannya.
“Ketika big data sudah ada, pertanyaannya: how the next? Dengan siapa kita bergerak? Di era seperti ini, kolaborasi adalah kunci.”
Menurutnya, data hanya akan memberi dampak jika pemerintah, akademisi, teknolog, legislator, dan masyarakat sipil dapat bekerja dalam ekosistem yang sama. Tanpa itu, Indonesia akan sulit bersaing menghadapi percepatan perubahan di Quantum Age.




