Darilaut – Perubahan teknologi global yang bergerak semakin cepat memaksa negara untuk meninggalkan cara lama dalam membaca dan merespons dinamika publik. Hal ini mengemuka dalam Panel Diskusi Refleksi Akhir Tahun yang digelar Deep Intelligence Research (DIR) bekerja sama dengan DEEP Indonesia dan Rumah Perubahan, Senin (2/12) di Bekasi. Forum tersebut menyoroti bagaimana era baru yang disebut Quantum Age telah menggeser pola ancaman dan relasi negara-warga.
Dalam pemaparannya, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D., menegaskan bahwa konflik dan ancaman global kini tidak lagi hadir dalam bentuk konvensional.
“Zaman sekarang perang makin murah. Dulu negara mengirim tentara, sekarang cukup mengirim mesin, drone, dan kecerdasan buatan. Ini sudah memasuki Quantum Age, zaman ketika konflik bisa muncul hanya dengan algoritma dan keputusan bisa diambil oleh mesin,” ujar Prof. Rhenald dalam Keynote Speech.
Menurut Rhenald, pergerakan teknologi yang bersifat kuantum membuat perubahan terjadi secara melompat, bukan linier. Hal itu menyebabkan kapasitas institusi negara kerap tertinggal dalam membaca dan mengantisipasi situasi.
“Di Quantum Age, intuisi politik tidak cukup. Negara harus mengambil keputusan secepat teknologi bergerak.”
Sesi berikutnya diisi dengan pemaparan temuan riset berbasis AI oleh Neni Nur Hayati, Direktur DEEP Indonesia sekaligus Direktur Komunikasi DIR. Riset tersebut menganalisis 174.730 percakapan publik di media sosial sepanjang 2025, yang menunjukkan penurunan signifikan kepercayaan masyarakat terhadap berbagai sektor nasional.




