“Dulu saya sering dapat ikan kecil sekali, banyak yang tidak laku dijual. Sekarang karena pakai kail nomor delapan hasil tangkapan lebih bagus. Ikannya besar-besar. Kalau dijual harganya juga lebih tinggi,” ujarnya.
“Saya merasa ikut menjaga laut, bukan cuma mengambil hasilnya saja. Anak cucu saya ke depan juga bisa ikut melaut tanpa takut ikannya habis.”
Lebih dari sekadar keuntungan ekonomi, bagi Wilhelmus pengalaman ini melahirkan kebanggaan baru.
Menurut data Bursa Ikan Kementerian Kelautan dan Perikanan, potensi ekonomi perikanan di wilayah Misool menunjukkan nilai yang menjanjikan. Pada periode 2023–2024, potensi Misool Selatan diperkirakan mencapai Rp 1,18 miliar, sementara Misool Utara sekitar Rp 0,67 miliar. Dua lokasi ini merupakan kawasan konservasi. Lonjakan produksi ikan karang di Kabupaten Raja Ampat juga terlihat signifikan, dari hanya 233 ton pada 2022 menjadi hampir 2.000 ton pada 2023.
Syafri menjelaskan bahwa potensi besar perikanan di wilayah Misool perlu dikelola secara lebih baik dengan dukungan data yang komprehensif. Momentum ini juga dimanfaatkan untuk meninjau kembali aturan pengelolaan kawasan, termasuk rancangan zonasi dan dokumen rencana pengelolaan.
Selain itu, untuk mendukung perikanan berkelanjutan, saat ini BLUD UPTD KKP Raja Ampat juga melakukan inisiatif pemasangan Rumah Ikan di Misool Selatan.




