“Saat ini, BRIN mengelola 5 kapal riset, namun kapal-kapal tersebut sudah berusia antara 24 hingga 40 tahun. Sehingga peralatan riset di dalamnya juga sudah mulai menua dan beberapa tidak berfungsi,” kata Nugroho.
”Kita perlu memberikan alternatif agar para periset kita dapat mendapatkan akses yang memadai pada teknologi mutakhir.”
Nugroho menjelaskan bahwa BRIN juga sedang dalam proses pembelian kapal riset penjelajah samudera baru dengan kapasitas dan fasilitas riset yang sama dengan Ocean X, serta kapal riset penjelajah pesisir untuk melakukan riset di pesisir, di muara sungai, hingga ke paparan benua.
Keuntungan kedua dari kerja sama ini adalah para periset BRIN akan mendapatkan akses pada kerja sama kolaborasi internasional.
“Di sini kita bisa memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi para periset Indonesia untuk berkerjasama dengan para periset internasional,” kata Nugroho.
Keuntungan ketiga, dalam hal capacity building. Kerja sama ini akan memasukkan platform kolaborasi untuk melakukan riset keanekaragaman hayati dan geologi Maritim Indonesia.
Dalam platform ini, BRIN akan memberikan fasilitas berupa skema degree by research, invited professor, kunjungan ilmiah untuk riset, dan berbagai skema lainnya untuk mempersiapkan generasi muda Indonesia, kader-kader dan talent-talent riset muda Indonesia agar nantinya dapat memanfaatkan kapal baru dan berpartisipasi dalam riset laut dan samudera secara global.




