Selain menyebabkan kerugian komersial yang signifikan, hal ini dapat mengakibatkan kematian dan cedera pada mamalia laut. Meskipun strategi industri telah mengurangi interaksi semacam itu.
Melalui studi ini diperoleh informasi untuk mengatasi kesenjangan pengetahuan dengan menentukan bagaimana paus pembunuh mencapai lokasi penangkapan ikan, dan seberapa jauh mereka melakukan perjalanan berulang kali dan berinteraksi dengan kapal.
“Data akustik kami menunjukkan paus pembunuh sering berada di dekat alat tangkap jauh sebelum terlihat di permukaan, meskipun tidak jelas apakah ini karena mereka mendeteksi dan mengikuti kapal, atau karena daerah penangkapan ikan komersial tumpang tindih dengan distribusi alaminya,” kata Cieslak.
Satu paus pembunuh, menurut Cieslak, menempuh jarak yang luar biasa sejauh 1.000 km selama 16 hari. Paus pembunuh lainnya berenang lebih dari 180 km selama 18 jam.
Temuan ini dapat berkontribusi untuk mengembangkan strategi mitigasi baru untuk mengurangi interaksi paus pembunuh dengan kapal rawai.
Hasil temuan penelitian diharapkan dapat mendorong agar kapal perikanan mempercepat operasinya. Misalnya, dengan menggunakan longline yang lebih pendek dan mengurangi lamanya waktu penempatan. Dengan cara ini, industri penangkapan ikan dapat meminimalkan hilangnya hasil tangkapan dan adanya perusakan.





Komentar tentang post