Selain itu, Funco menyoroti peran fundamental organisasi dan komunitas kepemudaan yang berfokus pada Pendidikan di Gorontalo yang hari ini sudah mulai ditinggalkan berkat pesatnya kemajuan teknologi.
“Dibutuhkan perubahan secara kelembagaan yang fundamental agar organisasi ataupun komunitas literasi tetap relevan dengan zaman,” kata Funco.
Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Gorontalo (PB-HPMIG), Raihan Daffa Nadiro Koniyo menyebut momentum Patriotik 23 Januari menjadi bukti keberanian rakyat Gorontalo untuk meraih kebebasan dari belenggu penjajahan.
Refha, sapaan akrabnya, menyebut peristiwa yang berlangsung 84 tahun lalu seharusnya direfleksikan oleh para pemangku kepentingan untuk membangun dan memajukan daerah, khususnya kesejahteraan masyarakat yang saat ini masih jauh dari harapan.
“diskusi kali ini tentu sebagai percikan kecil dalam menyemai semangat anak muda dalam menghadapi persoalan fundamental hari ini,” kata Refha.
Kegiatan diskusi ini dengan tema “Refleksi Hari Patriotik 23 Januari 1942 dan Persoalan Fundamental Gorontalo Hari Ini.”
Diskusi publik dihadiri oleh lintas komunitas kepemudaan dan masyarakat sipil. Kegiatan berlangsung lebih dari tiga jam, dirangkaikan juga dengan sesi tanya jawab antara narasumber dan peserta diskusi.




