Darilaut – Pengurus Besar Himpunan Pelajar Mahasiswa Indonesia Gorontalo (HPMIG) membahas persoalan fundamental Gorontalo.
Kegiatan diskusi publik untuk memperingati Hari Patriotik 23 Januari 1942 ini berlangsung di kompleks pasar Sentral Kota Gorontalo, pada (23/1).
Diskusi menghadirkan akademisi dan praktisi sebagai narasumber utama, di antaranya Funco Tanipu dari perwakilan The Gorontalo Institute, dan Suwiryo Ismail dari The Ecological Justice.
Suwiryo Ismail biasa disapa Rio, menilai persoalan investasi di sektor pertambangan menjadi momok besar di Provinsi Gorontalo saat ini.
Rio yang pernah aktif di Wahana Lingkungan Hidup (WALHI), Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Manado/Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) sekaligus berkecimpung di dunia jurnalistik, juga menyoroti praktik-praktik kotor penguasa dalam mengelola pemerintahan.
Akademisi Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Funco Tanipu, menjelaskan pentingnya literasi dan pemikiran kritis anak muda sebagai pemeran strategis dalam menyukseskan pembangunan daerah.
Kondisi ini menuntut adanya kesiapan yang bisa menyongsong peradaban 100 Tahun Gorontalo di tahun 2042.
“16 tahun lagi kita masuk 100 tahun momen patriotik 23 Januari, starting pointnya harus dimulai dari sekarang, dari anak – anak muda saat ini,” ujar Funco.




