Direktur Eksekutif UN-Habitat, Anacláudia Rosbach, mengatakan kota-kota berada di garis depan transisi nol limbah. Pemerintah daerah dan regional mengelola sistem limbah; mereka membentuk kembali ekonomi lokal, memengaruhi pola konsumsi, dan memajukan solusi inklusif yang mengintegrasikan pekerja informal dan komunitas.
“Inisiatif ini menggarisbawahi peran penting kota sebagai pelaksana perubahan. Ini menunjukkan bagaimana tindakan lokal, ketika didukung oleh tata kelola dan kemitraan yang kuat, dapat mempercepat perubahan menuju sistem perkotaan yang lebih tangguh, sirkular, dan inklusif,” kata Rosbach.
Inisiatif 20 Kota Menuju Nol Limbah bertujuan untuk:
- Mengakui kepemimpinan dan inovasi kota
- Mendorong pertukaran praktik terbaik dan pelajaran yang dipetik
- Menginspirasi kota-kota lain untuk mempercepat transisi mereka menuju nol limbah
- Mendukung implementasi pendekatan ekonomi sirkular di tingkat lokal
Meskipun masih menghadapi tantangan limbah, kota-kota terpilih menerapkan berbagai solusi, termasuk pencegahan limbah makanan, pengelolaan limbah organik, sistem penggunaan kembali dan pengisian ulang.
Selain itu, model daur ulang inklusif yang mendukung pekerja informal, kebijakan untuk mengurangi produk sekali pakai, dan inisiatif keterlibatan masyarakat untuk mendorong perubahan perilaku.
Inisiatif ini berkontribusi langsung pada Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), dan SDG 13 (Aksi Iklim).




